
TANGERANG –Gerakan masyarakat yang menamakan diri Koalisi Rakyat Banten menggelar aksi di kawasan Tugu Mauk, Kabupaten Tangerang, Senin (10/11/2025), dengan membawa “SEPULTURA” (Sepuluh Tuntutan Rakyat).
Dalam aksinya, massa mendesak pemerintah untuk menghentikan proyek PIK 2 dan berbagai proyek lain yang dinilai telah merampas tanah serta menyengsarakan warga di wilayah pesisir Banten.
Dalam daftar tuntutannya, massa menyerukan agar pemerintah menangkap dan mengadili pihak-pihak yang dianggap terlibat dalam perampasan tanah, termasuk nama-nama seperti Aguan, Anthony Salim, Jokowi, Nono Sampono, dan Ali Hanafia Lijaya beserta para oknum dari instansi pemerintah terkait.
Selain itu, mereka juga menuntut agar tanah warga dan aset negara yang diduga dirampas oleh proyek PIK 2 segera dikembalikan, serta menghentikan praktik kriminalisasi terhadap warga yang menolak proyek tersebut.
Aktivis Koalisi Rakyat Banten, Anton, menyatakan bahwa aksi ini merupakan bentuk perlawanan rakyat terhadap ketidakadilan yang sudah berlangsung lama.
“Kami tidak akan diam melihat tanah rakyat dirampas atas nama pembangunan. Pemerintah seharusnya berdiri di sisi rakyat, bukan menjadi kaki tangan para pengusaha besar,” tegas Anton dalam orasinya di lokasi aksi.
Anton juga menyoroti lemahnya pengawasan terhadap proyek-proyek besar yang berdampak pada lingkungan dan kehidupan masyarakat pesisir.
“Truk-truk proyek PIK 2 setiap hari melintas merusak jalan negara tanpa tanggung jawab. Ini bukan pembangunan, tapi perampasan hak hidup warga Banten,” ujarnya.
Koalisi juga menuntut agar kerja sama antara Pemerintah Kota Serang dengan perusahaan asal Tiongkok di Sawah Luhur dibatalkan, serta mendorong pencabutan Perda RT/RW yang mengubah lahan hijau menjadi kawasan industri.
Aksi “SEPULTURA” ini diakhiri dengan seruan moral agar Presiden Prabowo Subianto berpihak pada rakyat tertindas, bukan berada di bawah pengaruh kepentingan korporasi.
“Presiden harus membuktikan keberpihakan kepada rakyat kecil. Jangan sampai pemerintahan ini melanjutkan warisan keserakahan lama,” tutup Anton.
















