Lampu Merah di Depan Bandara Soekarno-Hatta Dinilai Tidak Efektif

Kota Tangerang – Upaya penguraian kemacetan melalui pemasangan lampu merah di depan kawasan Bandara Soekarno-Hatta dinilai tidak memberikan dampak apa pun.

Kondisi di lapangan justru menunjukkan persoalan semakin rumit akibat pembiaran terhadap pedagang kaki lima dan kendaraan parkir liar yang menguasai bahu jalan.

Hasil pemantauan menunjukkan bahu jalan yang seharusnya steril dipenuhi lapak dagangan, gerobak, dan kendaraan yang terparkir seenaknya.

Aktivitas keluar-masuk pembeli, ditambah parkir liar kendaraan pribadi dan ojek online yang mengambil setengah badan jalan, membuat arus lalu lintas tersendat parah.

Setiap jam sibuk, antrean kendaraan mengular hingga ratusan meter. Keberadaan lampu merah yang mestinya mengatur alur kendaraan tak memiliki efek karena ruang jalan tergerus hingga hampir setengahnya.

Seorang pengendara yang setiap hari melintas mengaku sudah bertahun-tahun kondisi itu dibiarkan tanpa tindakan tegas.

“Lampu merahnya cuma formalitas. Kalau bahu jalan dikuasai pedagang dan mobil parkir seenaknya, ya tetap macet. Ini kelihatan jelas nggak ada pengawasan,” ujarnya.

Forum Persatuan Pemuda Neglasari (FP2N) menilai akar masalah justru ada pada lemahnya penegakan aturan, bukan pada infrastruktur lampu merah.

“Masalah utamanya bukan lampu merah. Lama sekali bahu jalan dibiarkan jadi tempat berdagang. Tidak ada penertiban dari Satpol PP, tidak ada pengawasan dari Dishub. Ini bentuk pembiaran, dan terkesan disengaja,” tegas salah satu anggota FP2N, inisial P.

Ia menambahkan bahwa bahu jalan adalah ruang keselamatan, bukan ruang komersial.

“Ketika bahu jalan berubah jadi pasar dan tempat parkir liar, otomatis arus kendaraan kehilangan ruang. Mau dipasang lima lampu merah sekaligus pun, kemacetan tetap terjadi.”

Di lapangan terlihat jelas mobil pribadi, ojek online, hingga kendaraan penjemput penumpang bandara parkir seenaknya di bahu jalan hingga menutup hampir setengah jalur.

Aktivitas bongkar muat penumpang pun kerap dilakukan di titik lampu merah.

Kondisi ini membuat aliran kendaraan harus mengerem mendadak, mengantre panjang, dan berebut ruang dengan kendaraan yang keluar dari area bandara.

Warga menilai pemerintah sudah terlalu lama mengabaikan situasi ini. Penertiban tidak pernah terlihat konsisten.

Kehadiran petugas hanya sesekali, itu pun tanpa tindakan tegas.Warga dan pengendara sepakat: persoalan macet ini bukan soal lampu merah. Itu hanya “alat kecil” di tengah persoalan besar bernama pembiaran.

Selama bahu jalan berubah menjadi tempat penjualan kaki lima dan tempat parkir liar, lampu merah akan tetap menjadi simbol kebijakan asal pasang tanpa manfaat, tanpa perubahan, dan tanpa keberpihakan pada kelancaran publik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *