Ngopi Senja Angkringan Dialektika Bahas Catatan Akhir Tahun: Politik, Pendidikan, dan Peluang Pekerjaan

Kota Tangerang – Di sebuah sudut sederhana Kota Tangerang, Angkringan Dialektika kembali menjadi ruang alternatif bagi publik untuk berbicara lebih jujur tentang kondisi daerah.

Program Ngopi Senja (Ngobrol Pintar Seni Menjaga Kebersamaan) yang biasanya berlangsung hangat, Sore itu berubah menjadi forum yang kritis dan penuh analisa.

Tema yang diangkat bukan tema ringan: Catatan Akhir Tahun Politik, Pendidikan, dan Peluang Pekerjaan.

Narasumber pertama, Bung Umar, membuka diskusi dengan isu paling sensitif: politik uang.

Menurutnya, masyarakat masih terjebak pada pola lama memilih karena amplop, bukan gagasan.

“Kesadaran politik itu penting. Kita jangan dibeli 50 ribu untuk kemudian sengsara lima tahun ke depan,” ujarnya lantang.

Pernyataan Umar memperlihatkan potret buram demokrasi lokal: praktik transaksional masih menjadi alat efektif bagi para calon yang minim prestasi namun bermodal besar.

Ia menegaskan bahwa masalah ini bukan sekadar moral, tetapi juga struktur kekuasaan yang membiarkan praktik tersebut hidup.

Di lanjut Bidang pendidikan dibedah oleh Bung Anton, yang membawa data mencolok: angka putus sekolah di Kota Tangerang masih mencapai 25 ribu anak. Meski jumlah tersebut turun dari 30 ribu, angka itu tetap mencerminkan kegagalan struktural.

“Pendidikan harus diutamakan sesuai UUD. Ketika puluhan ribu anak masih putus sekolah, itu berarti ada mata rantai kebijakan yang tidak bekerja,” ujarnya.

Investigasi awal tim Ngopi Senja menemukan beberapa dugaan penyebabnya: tekanan ekonomi keluarga, biaya tidak langsung sekolah, hingga kurangnya intervensi terarah dari pemerintah.

Penurunan angka memang terjadi, namun tidak menjawab alasan utama mengapa anak-anak ini berhenti sekolah.

Kemudian Narasumber ketiga, Bung Fiqri, membongkar sisi lain Kota Tangerang: tingginya angka pengangguran yang mencapai 5,95%. Angka ini kontras dengan masifnya kawasan industri di kota tersebut.

“Kota Tangerang ini ‘hidup’ dari industri, tapi penduduknya sendiri masih kesulitan masuk kerja. Mungkin salah satu solusi adalah skema 60% untuk tenaga kerja pribumi dan 40% melalui yayasan,” jelasnya.

Pernyataan ini memicu diskusi lanjutan. Informasi lapangan menyebutkan banyak perusahaan besar yang lebih memilih tenaga kerja dari luar daerah atau melalui yayasan outsourcing, yang sering kali menempatkan pekerja lokal sebagai penonton di rumah sendiri.

Model perekrutan semacam ini telah lama dikritisi karena membuka ruang bagi praktik percaloan, potongan gaji, bahkan manipulasi kuota.

Diskusi Ngopi Senja malam itu bukan sekadar obrolan warung kopi. Ia berubah menjadi potret investigatif kecil tentang persoalan struktural kota:Demokrasi lokal masih dibayangi politik uang, Pendidikan belum menyentuh akar masalah putus sekolah, Dunia kerja masih timpang, ketergantungan outsourcing membuat warga lokal tersisih.

Angkringan Dialektika sekali lagi membuktikan bahwa ruang kecil bisa melahirkan percakapan besar selama ada keberanian untuk membongkar apa yang selama ini hanya dibicarakan setengah suara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *