Tangsel, Banten Darurat Penanganan Sampah, Tumpukan Masih Terlihat di Sejumlah Titik

Tangerang Selatan – Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, hingga kini masih berada dalam kondisi darurat penanganan sampah. Meski pemerintah daerah telah menetapkan status darurat dan membentuk satuan tugas khusus, tumpukan sampah masih ditemukan di sejumlah ruas jalan dan kawasan permukiman, menimbulkan keresahan warga.

Di beberapa titik, sampah terlihat menggunung hingga mengganggu aktivitas masyarakat, menimbulkan bau menyengat, serta berpotensi menimbulkan masalah kesehatan dan lingkungan.

Kondisi ini memicu kritik publik terhadap efektivitas kebijakan penanganan darurat yang diterapkan Pemkot Tangsel.

Pemkot Tangsel mengakui bahwa krisis sampah dipicu oleh ketimpangan antara volume timbulan sampah harian yang mencapai lebih dari seribu ton dengan keterbatasan kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cipeucang.

Akibatnya, pengangkutan sampah tidak dapat dilakukan secara optimal seperti kondisi normal.

Sebagai langkah darurat, pemerintah memperpanjang masa tanggap darurat sampah, menambah armada pengangkut, serta mengalihkan sebagian sampah ke luar daerah.

Namun kebijakan ini dinilai belum menyentuh akar persoalan, yakni pengelolaan sampah dari hulu dan minimnya fasilitas pengolahan modern di dalam kota.

“Darurat jangan hanya sebatas status. Warga butuh solusi jangka panjang, bukan sekadar angkut dan pindahkan sampah ke daerah lain,” ujar salah satu warga Ciputat yang mengeluhkan kondisi lingkungan di sekitar tempat tinggalnya.

DPRD Tangsel juga menyoroti persoalan ini dan meminta pemerintah daerah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan sampah.

Mereka mendorong percepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah berbasis teknologi ramah lingkungan serta penguatan edukasi pemilahan sampah di tingkat rumah tangga.

Pengamat lingkungan menilai, jika penanganan sampah di Tangsel terus bersifat reaktif dan darurat, krisis serupa berpotensi terus berulang setiap tahun. Tanpa perencanaan matang dan keberanian mengambil kebijakan strategis, status darurat dikhawatirkan menjadi kondisi yang permanen.

Hingga kini, masyarakat berharap pemerintah daerah tidak hanya fokus pada penanganan sementara, tetapi juga menghadirkan solusi berkelanjutan demi menjamin lingkungan yang sehat dan layak bagi warga Tangerang Selatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *