Opini – Kabar meninggalnya seorang siswa yang diduga selama ini menggunakan sepatu sekolah kekecilan karena keterbatasan ekonomi kembali mengetuk hati publik. Di tengah ramainya pembahasan program MBG yang digadang-gadang menjadi solusi kesejahteraan masyarakat, masih ada anak bangsa yang bahkan tidak mampu membeli sepasang sepatu layak untuk bersekolah.
Peristiwa ini menjadi ironi sosial yang sangat menyakitkan. Di saat para pejabat, pengusaha, dan elite sibuk berbicara soal program besar, investasi, dan pembangunan, masih ada pelajar yang harus menahan sakit, malu, bahkan tekanan mental akibat kondisi ekonomi keluarga. Sepatu yang seharusnya menjadi kebutuhan dasar sekolah justru berubah menjadi simbol ketimpangan sosial yang nyata.
Publik menilai persoalan ini bukan hanya tentang sepatu, tetapi tentang lemahnya kepekaan sosial terhadap rakyat kecil. Banyak masyarakat mempertanyakan, bagaimana mungkin program-program besar terus digaungkan, namun kebutuhan mendasar anak sekolah masih terabaikan?
“Ini tamparan keras bagi semua pihak. Anak sekolah bukan hanya butuh makan gratis atau program seremonial, tapi juga perlengkapan pendidikan yang layak. Jangan sampai negara terlihat sibuk pencitraan tetapi lupa melihat penderitaan rakyat kecil,” ujar Thorik salah satu aktivis sosial dalam tanggapan publik.
Masyarakat berharap kejadian ini menjadi bahan evaluasi serius bagi pemerintah daerah, sekolah, hingga pihak swasta yang sering mengatasnamakan kepedulian sosial. Bantuan pendidikan seharusnya tidak berhenti pada slogan dan publikasi, tetapi benar-benar menyentuh kebutuhan nyata para siswa kurang mampu.
Kematian seorang pelajar karena himpitan ekonomi bukan sekadar berita duka. Ini adalah alarm kemanusiaan. Sebab ketika seorang anak kehilangan kesempatan hidup layak hanya karena tidak mampu membeli sepatu sekolah, maka yang gagal bukan hanya keluarga, melainkan seluruh sistem sosial yang ada.








