Tintakota.com – Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah kembali menjadi perhatian publik. Dampaknya tidak hanya terasa di sektor ekonomi makro, tetapi juga menghantam langsung kehidupan masyarakat: harga kebutuhan pokok berpotensi naik, biaya impor meningkat, pelaku usaha tertekan, hingga ancaman terhadap daya beli rakyat kecil. Namun di tengah kondisi tersebut, muncul pertanyaan kritis: di mana suara kaum intelektual, terutama mahasiswa yang selama ini disebut sebagai agen perubahan (agent of change) dan kontrol sosial?
Mahasiswa sejak dahulu memiliki sejarah panjang sebagai kekuatan moral bangsa. Dari masa reformasi hingga berbagai gerakan sosial, mahasiswa hadir sebagai pengingat ketika negara menghadapi persoalan serius. Akan tetapi, ketika dolar semakin melambung dan kondisi ekonomi global mulai memberi tekanan terhadap kehidupan masyarakat, respons gerakan mahasiswa terlihat minim atau bahkan nyaris tak terdengar.
Apakah kenaikan dolar kini dianggap persoalan biasa? Ataukah ada perubahan cara pandang generasi intelektual terhadap isu ekonomi yang dinilai terlalu teknis dan jauh dari kehidupan kampus?
Padahal, menguatnya dolar bukan sekadar angka di layar bursa keuangan. Efek domino dari pelemahan rupiah dapat menyentuh berbagai sektor, mulai dari kenaikan biaya pendidikan, harga BBM, tarif barang impor, hingga meningkatnya biaya hidup masyarakat secara keseluruhan. Dalam situasi seperti ini, mahasiswa seharusnya mampu hadir sebagai penyambung aspirasi rakyat, bukan hanya aktif dalam isu politik sesaat atau tren media sosial.
Kritik juga layak diarahkan kepada ruang-ruang intelektual yang mulai kehilangan sensitivitas terhadap isu ekonomi kerakyatan. Kampus semestinya menjadi pusat kajian dan perdebatan publik yang melahirkan gagasan, kajian akademis, maupun gerakan moral untuk mengawal kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Namun demikian, kritik ini juga perlu proporsional. Gerakan tidak selalu harus turun ke jalan. Di era digital, suara intelektual dapat diwujudkan melalui riset, diskusi publik, edukasi masyarakat, hingga pengawasan terhadap kebijakan fiskal dan moneter pemerintah. Yang menjadi persoalan adalah ketika diam menjadi kebiasaan, dan persoalan besar dianggap lumrah tanpa sikap kritis.
Bangsa ini membutuhkan kaum intelektual yang tidak apatis. Sebab ketika ekonomi mulai bergejolak dan suara kampus meredup, publik berhak bertanya: apakah semangat “agent of change” masih hidup, atau hanya menjadi slogan di ruang seminar?
Opini ini bertujuan membuka ruang diskusi dan kritik konstruktif terhadap peran mahasiswa serta kaum intelektual dalam merespons isu ekonomi nasional.








