Opini  

Merebut Hak atau Kehilangan Arah? Catatan Kritis di Balik Demonstrasi Rusuh

Opini – Demonstrasi sejatinya merupakan bagian dari ruang demokrasi. Jalanan kerap menjadi tempat terakhir bagi masyarakat untuk menyampaikan suara ketika ruang-ruang dialog dianggap tertutup. Namun, persoalan kemudian muncul ketika demonstrasi berubah menjadi kerusuhan dan tindakan anarkis.

Ada sebuah ungkapan yang kerap digaungkan dalam sejarah perjuangan: “Tidak ada kemerdekaan yang diberikan secara cuma-cuma, kemerdekaan harus direbut.” Namun pertanyaannya, apakah semangat merebut hak otomatis membenarkan tindakan anarkis?

Jawabannya tentu tidak sesederhana itu.

Kekecewaan masyarakat terhadap kebijakan, ketimpangan, ketidakadilan, maupun sikap penguasa yang dianggap tidak berpihak memang dapat menjadi bahan bakar kemarahan. Ketika aspirasi berulang kali tidak didengar, rakyat bisa merasa bahwa berbicara secara baik-baik tidak lagi cukup.

Namun, kekecewaan bukan berarti kehilangan arah perjuangan.

Anarkisme dan kekecewaan memiliki hubungan, tetapi keduanya bukan hal yang sama. Kekecewaan adalah perasaan akibat harapan yang dikhianati atau suara yang tidak didengar. Sementara tindakan anarkis adalah pilihan tindakan yang dapat muncul dari kemarahan yang tidak terkendali.

Persoalannya, ketika massa mulai merusak fasilitas umum, membakar, atau menyerang pihak yang tidak terkait langsung dengan persoalan, maka yang menjadi korban justru sering kali masyarakat sendiri.

Fasilitas umum dibangun dari uang rakyat. Jalan, halte, kantor pelayanan, dan berbagai sarana publik pada akhirnya akan kembali digunakan oleh masyarakat. Merusaknya atas nama perjuangan justru menimbulkan pertanyaan besar: siapa sebenarnya yang sedang dilawan?

Sejarah memang mencatat bahwa perubahan besar tidak selalu lahir dari meja perundingan. Banyak hak rakyat diperjuangkan dengan tekanan, perlawanan, bahkan pengorbanan. Tetapi perjuangan yang kuat bukan sekadar tentang seberapa besar amarah yang bisa ditunjukkan.

Perjuangan harus memiliki tujuan, sasaran, dan kesadaran.

Jika demonstrasi berubah menjadi kerusuhan tanpa arah, maka substansi tuntutan bisa tenggelam oleh asap pembakaran dan kerusakan. Media tidak lagi membicarakan ketidakadilan yang diprotes, melainkan fokus pada kerusuhan yang terjadi.

Di situlah ironi perjuangan muncul.

Mereka yang berkuasa mungkin tidak selalu takut pada teriakan massa. Namun, kekuasaan akan lebih sulit menghadapi rakyat yang terorganisir, memiliki argumentasi kuat, solidaritas luas, dan konsisten mengawal tuntutannya.

Kekecewaan adalah energi. Tetapi tanpa kesadaran, energi itu bisa berubah menjadi kehancuran.

Demonstrasi tetap harus menjadi alat kontrol terhadap kekuasaan. Kritik tidak boleh dibungkam. Kemarahan rakyat juga tidak boleh dianggap sebagai gangguan semata. Sebab, sering kali kerusuhan adalah alarm bahwa ada persoalan yang terlalu lama dibiarkan.

Pemerintah dan para pemangku kebijakan juga perlu melakukan introspeksi. Jangan hanya sibuk mengutuk tindakan massa, tetapi lupa bertanya: mengapa kekecewaan itu bisa tumbuh sedemikian besar?

Sebab sebelum sebuah kemarahan meledak di jalanan, biasanya ada aspirasi yang terlalu lama tidak didengar.

Pada akhirnya, perjuangan untuk merebut hak tidak harus berarti membabi buta. Radikal dalam berpikir tidak harus brutal dalam bertindak. Kritis terhadap kekuasaan tidak harus kehilangan kemanusiaan.

Kemerdekaan memang tidak selalu diberikan. Hak harus diperjuangkan. Tetapi perjuangan yang sejati bukan hanya mampu mengguncang jalanan, melainkan juga mampu menjaga tujuan agar tidak hilang di tengah amarah.

Sebab kekecewaan adalah alasan untuk melawan ketidakadilan, tetapi bukan alasan untuk kehilangan akal sehat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *