Warga Keluhkan Jembatan Dibangun Pihak Asthara Diduga Tak Bisa Dilalui Masyarakat

Terlihat gerbang tertutup rapat akses menuju jembatan potret (media tintakota.com)

Kota Tangerang – Sejumlah warga mengeluhkan keberadaan jembatan yang dibangun oleh pihak Asthara karena diduga tidak dapat dilalui atau dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Kondisi tersebut menimbulkan tanda tanya besar di tengah harapan warga terhadap pembangunan infrastruktur yang seharusnya mempermudah akses, bukan justru membatasi ruang gerak masyarakat.

Menurut keterangan beberapa warga, jembatan yang dibangun tersebut hingga kini belum bisa digunakan sebagaimana mestinya. Bahkan, ada dugaan akses masyarakat menjadi terbatas, sehingga menimbulkan keresahan di lingkungan sekitar.

“Kalau memang dibangun untuk kepentingan bersama, kenapa masyarakat tidak bisa melintas? Jangan sampai pembangunan ini hanya menjadi simbol tanpa fungsi nyata untuk warga,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.

Masyarakat berharap adanya penjelasan terbuka dari pihak Asthara terkait status, fungsi, serta alasan jembatan tersebut belum atau tidak dapat diakses publik. Transparansi dinilai penting agar tidak memunculkan asumsi liar maupun dugaan adanya pembatasan akses terhadap fasilitas yang berdampak pada lingkungan warga.

Aktivis dan tokoh masyarakat juga mulai menyoroti persoalan ini. Mereka meminta pemerintah daerah turun tangan melakukan evaluasi terhadap pembangunan tersebut, termasuk memastikan apakah keberadaan jembatan telah sesuai dengan asas kemanfaatan publik serta tidak merugikan masyarakat sekitar.

“Pembangunan harus berpihak pada kepentingan rakyat. Jangan sampai fasilitas berdiri megah tetapi masyarakat sekitar justru tidak merasakan manfaatnya,” ungkap Diki Wahyudi salah satu pemerhati kebijakan publik 16 Mei 2026.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Asthara belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan warga mengenai jembatan tersebut. Warga berharap ada solusi konkret agar akses dapat dimanfaatkan secara adil dan tidak menimbulkan polemik berkepanjangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *