Tanah Merah BBI Dikeluhkan Warga, Jalan Kotor dan Bising, Ibu-Ibu Selapajang Jaya Turun Demo

Terlihat Tanah Merah Berceceran Di Jalan Raya Yang Menyebabkan Jalan Licin Foto By (Tintakota.com)

Kota Tangerang – Aktivitas proyek BBI (Bumi Bangunan Indah) di wilayah Kelurahan Selapajang Jaya, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, menuai keluhan dari masyarakat dan para pengguna jalan. Warga menyoroti tercecernya tanah merah bekas keluar masuk kendaraan besar dari area proyek yang mengotori badan jalan, memicu licin saat hujan, berdebu saat kering, serta menimbulkan kebisingan yang dinilai mengganggu kenyamanan lingkungan sekitar, Senin (22/6/2026).

Keluhan warga bukan tanpa alasan. Setiap kendaraan besar yang keluar masuk area proyek disebut meninggalkan jejak tanah merah di sepanjang ruas jalan sekitar lokasi. Kondisi tersebut dikeluhkan karena dinilai membahayakan pengendara roda dua, mengganggu aktivitas warga, hingga menciptakan kesan bahwa proyek berjalan tanpa memperhatikan dampak terhadap lingkungan sekitar.

“Kalau hujan jadi becek dan licin, kalau panas debunya beterbangan. Yang lewat jadi waswas, warga juga terganggu. Jangan sampai proyek besar jalan, tapi keselamatan warga dan pengguna jalan diabaikan,” ujar salah seorang warga sekitar.

Tak hanya soal jalan yang kotor, kebisingan dari aktivitas kendaraan proyek dan operasional di lokasi juga dikeluhkan warga. Suara kendaraan berat yang hilir mudik disebut kerap terdengar sejak pagi hingga sore, sehingga mengganggu ketenangan lingkungan permukiman yang berada tak jauh dari proyek.

Puncak kekesalan warga bahkan sempat diwujudkan dalam aksi protes langsung ke lokasi proyek. Sejumlah warga yang didominasi ibu rumah tangga turun menyuarakan keberatan mereka terhadap dampak proyek yang dinilai makin meresahkan. Aksi tersebut menjadi gambaran bahwa keresahan masyarakat sudah berada pada titik jenuh.

Menurut warga, aksi itu bukan semata-mata bentuk penolakan terhadap pembangunan, melainkan tuntutan agar pihak proyek bertanggung jawab terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkan. Warga meminta adanya langkah nyata seperti pembersihan rutin jalan dari tanah merah, pengaturan jam operasional kendaraan besar, hingga pengendalian kebisingan agar aktivitas proyek tidak merugikan masyarakat sekitar.

“Pembangunan silakan berjalan, tapi jangan sampai warga yang jadi korban. Jalan jadi kotor, berdebu, bising, dan membahayakan pengguna jalan. Harus ada tanggung jawab dari pihak proyek,” kata warga lainnya.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius soal pengawasan lingkungan dan ketertiban proyek di kawasan permukiman. Sebab, proyek berskala besar semestinya memiliki standar operasional yang ketat, termasuk memastikan kendaraan proyek tidak membawa material tercecer ke jalan umum, menyediakan pembersihan area keluar-masuk kendaraan, serta meminimalkan gangguan suara terhadap warga sekitar.

Jika keluhan masyarakat terus dibiarkan tanpa respons cepat, maka bukan hanya kenyamanan warga yang terganggu, tetapi juga potensi kecelakaan lalu lintas akibat jalan licin dan kotor yang bisa mengancam keselamatan pengguna jalan setiap hari.

Warga berharap Pemerintah Kota Tangerang, khususnya dinas terkait dan aparat wilayah setempat, segera turun tangan melakukan pengecekan lapangan, memanggil pihak pengelola proyek, serta memastikan ada tindakan tegas apabila ditemukan pelanggaran terhadap ketentuan lingkungan dan ketertiban umum.

Bagi masyarakat sekitar, pembangunan seharusnya membawa manfaat, bukan justru meninggalkan keresahan. Ketika ibu-ibu rumah tangga sampai turun melakukan aksi protes, itu menjadi sinyal bahwa persoalan di lapangan tidak bisa lagi dianggap sepele.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *