Tangerang Raya – Ketua Umum Forum Intelektual Anak Timur Indonesia, Yosua Letwory, menyampaikan kecaman keras atas dugaan pernyataan bernuansa rasisme yang dilontarkan oleh salah satu petinggi Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Pernyataan tersebut dinilai tidak pantas dan mencederai nilai persatuan dalam keberagaman bangsa Indonesia.
Dalam keterangannya, Yosua Letwory menegaskan bahwa tindakan diskriminatif dalam bentuk apa pun tidak dapat ditoleransi, terlebih jika datang dari figur publik yang seharusnya menjadi teladan.
“Kami sangat menyayangkan adanya ucapan yang mengarah pada rasisme terhadap masyarakat Indonesia Timur. Ini bukan hanya soal kata-kata, tetapi menyangkut harga diri dan martabat kami sebagai bagian dari bangsa Indonesia,” tegas Yosua.
Ia juga menilai bahwa pernyataan tersebut bertentangan dengan semangat persatuan yang selama ini dibangun oleh Presiden Joko Widodo, yang konsisten mengedepankan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa membedakan suku, ras, maupun golongan.
“Apa yang disampaikan oleh oknum tersebut sama sekali tidak mencerminkan semangat kebangsaan yang selama ini digaungkan oleh pemerintah. Justru berpotensi memecah belah persatuan,” lanjutnya.
Forum Intelektual Anak Timur Indonesia melalui Yosua Letwory juga menyampaikan beberapa tuntutan tegas:
1. Mendesak agar oknum wakil ketua umum PSI yang bersangkutan segera dicopot dari jabatannya.
2. Meminta adanya klarifikasi dan permintaan maaf secara terbuka kepada masyarakat Indonesia Timur.
3. Mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama melawan segala bentuk rasisme dan diskriminasi.
Yosua menegaskan bahwa pihaknya akan terus mengawal isu ini hingga ada langkah konkret dari pihak terkait sebagai bentuk tanggung jawab moral.
“Kami tidak ingin kejadian seperti ini dianggap sepele. Jika dibiarkan, ini bisa menjadi ancaman serius bagi keutuhan bangsa,” pungkasnya.
Forum Intelektual Anak Timur Indonesia menegaskan komitmennya dalam menjaga nilai persatuan, serta akan terus bersuara terhadap segala bentuk ketidakadilan yang menimpa masyarakat Indonesia Timur.
















