
Kota Tangerang – Kondisi Jalan Pembangunan 3 memunculkan tanda tanya besar soal keseriusan pemerintah daerah dalam merawat fasilitas publik.
Sepanjang badan jalan tampak dipenuhi tumpukan tanah dan lumpur basah yang membuat permukaan licin dan sangat rawan kecelakaan.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa ini bukan persoalan baru. Jalan tersebut telah lama dibiarkan tanpa perawatan.
Tanah dari sisi jalan dibiarkan menumpuk, mengeras, lalu berubah menjadi lumpur setiap kali hujan turun.
Tidak ada upaya pembersihan, tidak ada langkah cepat, seolah-olah keselamatan warga bukan prioritas.
Padahal ketentuan hukum sudah sangat jelas. UU No. 38 Tahun 2004, PP No. 34 Tahun 2006, dan UU No. 22 Tahun 2009 menegaskan bahwa penyelenggara jalan wajib menjaga jalan tetap aman.
Jika ada kondisi yang membahayakan pengguna jalan, pemerintah harus turun tangan segera bukan menunggu setelah ada korban.
Forum Persatuan Pemuda Neglasari menilai kondisi tersebut bukan sekadar kekurangan perawatan, tetapi bentuk pembiaran terhadap keselamatan masyarakat.
“Ini jelas bentuk pembiaran. Jalan dipenuhi lumpur, warga terancam tiap hari, tapi tidak ada penanganan. Aturan soal pemeliharaan jalan bukan hiasan. Itu kewajiban. Kalau kondisi seperti ini dibiarkan, berarti ada yang tidak berfungsi dalam sistem,” tegas Thoriq.
Thoriq menambahkan bahwa persoalan ini menyentuh inti pelayanan publik apakah keselamatan warga benar-benar dianggap penting atau hanya jargon dalam spanduk.
“Warga lewat sini setiap hari. Mereka berhak atas jalan yang aman. Kalau fasilitas dasar saja tidak dijaga, bagaimana mungkin bicara soal pembangunan lainnya?” tambahnya.
Kondisi Jalan Pembangunan 3 adalah pengingat bahwa kelalaian kecil di lapangan bisa berubah menjadi ancaman besar.
Lumpur di badan jalan bukan sekadar kotoran itu potensi kecelakaan. Dan ketika peringatan awal seperti ini tidak ditangani, maka risiko tinggal menunggu waktu.
Publik kini menunggu apakah pemerintah daerah akan bergerak cepat, atau membiarkan situasi ini menjadi bukti baru bahwa keselamatan warga sering kali dikorbankan oleh lemahnya pemeliharaan.
















