Wanda Hamidah Soroti Kondisi Palestina dan Peringatkan Indonesia soal Ancaman Kolonialisme Modern

Jakarta — Aktivis dan politisi Wanda Hamidah kembali menyuarakan kepeduliannya terhadap perjuangan rakyat Palestina setelah mengikuti rangkaian kegiatan solidaritas global yang melibatkan peserta dari lebih dari 54 negara. Dalam keterangannya, Wanda mengungkapkan pengalaman langsung yang ia dapat saat mempelajari situasi di Palestina, khususnya Gaza.

Menurutnya, narasi bahwa konflik di Palestina telah selesai merupakan bentuk penyesatan informasi. Ia menegaskan bahwa hingga hari ini, rakyat Palestina masih hidup dalam kondisi penjajahan yang berlangsung lebih dari delapan dekade.

“Banyak negara menolak narasi palsu bahwa Palestina sudah merdeka. Faktanya, tanah mereka terus dirampas, dan perjanjian damai justru dimanfaatkan untuk memperluas pendudukan,” ujar Wanda.

Ia menilai dukungan negara-negara besar seperti Amerika Serikat ikut memperburuk situasi, karena kebijakan internasional sering kali menempatkan Palestina pada posisi yang semakin terjepit.

Dalam pernyataannya, Wanda juga menyampaikan refleksi yang relevan bagi Indonesia. Ia menilai bahwa ancaman kolonialisme tidak lagi selalu berbentuk agresi militer, tetapi bisa hadir melalui infiltrasi ekonomi, politik, dan kepentingan korporasi internasional maupun lokal.

“Musuh kita bukan hanya kekuatan kolonial di luar sana. Di dalam negeri, kita menghadapi nepotisme, kapitalisme rakus, dan konglomerat yang menguasai sumber daya alam,” tegasnya.

Wanda menyoroti maraknya aktivitas tambang ilegal di Sumatra dan Sulawesi yang disebut-sebut melibatkan kepentingan besar hingga menyeret aparat menjadi pelindung kepentingan terselubung.

“Indonesia ini kaya, tapi rakyatnya tidak merasakan kesejahteraan. Ketika aparat menjadi antek kepentingan ekonomi gelap, itu artinya bangsa ini sedang menghadapi bentuk penjajahan baru,” tambahnya.

Wanda menegaskan bahwa solidaritas Indonesia terhadap Palestina adalah bagian dari amanat konstitusi, sejarah diplomasi Indonesia, dan prinsip kemanusiaan.

“Selama Palestina belum merdeka, kita punya kewajiban moral dan politik untuk terus membela mereka,” tutupnya.

Pernyataan tersebut kembali menguatkan suara publik Indonesia yang menolak praktik kolonialisme dalam bentuk apa pun baik di Timur Tengah maupun di tanah air sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *