Sajian MBG di MI At-Taqwa Dinilai Telah Penuhi Standar Dasar Gizi, Didukung Penjelasan Ahli

Klarifikasi MBG Belendung 1 Kepada Wartawan tintakota.com (foto by Fiqri)

Kota Tangerang – Menanggapi pemberitaan terkait keluhan wali murid atas sajian Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di MI At-Taqwa, Jl. KH. Mu’min RT 005/009, Benda, Kota Tangerang, sejumlah pihak memberikan klarifikasi agar informasi dapat dipahami secara objektif dan berimbang.

Berdasarkan analisis kandungan gizi terhadap menu yang disajikan, komposisi makanan telah mencakup unsur utama gizi, yakni karbohidrat, protein, dan lemak. Pada porsi kecil, menu mengandung sekitar 404 kkal energi dan 15 gram protein, sedangkan porsi besar mencapai 580 kkal energi dengan 22 gram protein. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan dasar energi dan protein anak dalam satu kali makan telah terpenuhi.

Kepala Yayasan Sahabat Insan Sejahtera, Jumhari, menegaskan bahwa pelaksanaan program MBG telah berjalan sesuai ketentuan.

“Kami menjalankan program ini mengacu pada standar yang telah ditetapkan. Komposisi makanan sudah memperhatikan unsur gizi dasar. Tentu kami terbuka terhadap evaluasi, namun pelaksanaan di lapangan tetap mengikuti prosedur yang ada,” ujar Jumhari.

Sementara itu, ahli gizi SPPG Belendung 1 dari Yayasan Sahabat Insan Sejahtera, Ade Putri Apriliani, S.Gz, menjelaskan bahwa secara komposisi, menu yang disajikan sudah memenuhi standar minimum gizi.

“Jika dilihat dari kandungan energinya, menu ini sudah memenuhi kebutuhan dasar anak untuk satu kali makan, terutama dari sisi karbohidrat dan protein. Memang, untuk aspek variasi dan keseimbangan mikronutrien seperti serat dan vitamin masih bisa ditingkatkan, namun secara umum tidak dapat dikategorikan tidak layak,” jelasnya.

Dalam perspektif ilmiah, pemenuhan gizi tidak hanya dilihat dari kesempurnaan, tetapi dari terpenuhinya standar minimum kebutuhan energi dan protein, yang dalam hal ini telah tercapai. Adapun kekurangan pada variasi menu menjadi bagian dari evaluasi berkelanjutan, bukan indikator kegagalan program.

Dengan demikian, pemberitaan sebelumnya tetap menjadi bagian dari kontrol sosial, namun perlu dilengkapi dengan analisis komprehensif agar tidak menimbulkan persepsi yang kurang proporsional di masyarakat.

Diharapkan ke depan, seluruh pihak dapat bersama-sama mendorong perbaikan kualitas program MBG secara konstruktif, tanpa mengabaikan capaian yang telah sesuai dengan standar dasar gizi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *