
Kekhawatiran terhadap masa depan kini menjadi persoalan yang dirasakan banyak warga, Terutama di kalangan pekerja Kota Tangerang.
Tekanan ekonomi, target kerja yang tinggi, hingga ketidakpastian status pekerjaan membuat banyak masyarakat hidup dalam bayang-bayang kecemasan setiap hari.
Sebuah studi dari University of California menunjukkan bahwa 85% hal yang dikhawatirkan manusia sebenarnya tidak pernah benar-benar terjadi.
Namun dalam realitas masyarakat perkotaan, kekhawatiran justru menjadi energi yang terkuras percuma karena sistem ekonomi dan dunia kerja yang tak menentu.
Aktivis muda Kota Tangerang, Thorik Arfansyah, menilai bahwa kondisi ini merupakan refleksi dari lemahnya kebijakan pemerintah daerah dalam melindungi kesejahteraan mental dan ekonomi warganya.
“Banyak pekerja di Kota Tangerang hidup dalam tekanan pekerjaan yang berat, tapi tidak disertai perlindungan yang memadai. Pemerintah Kota Tangerang semestinya tidak hanya fokus pada infrastruktur fisik, tapi juga memperhatikan ketenangan dan kepastian kerja masyarakatnya,” ujar Thorik, Rabu (12/11/2025).
Ia menambahkan, kekhawatiran yang berlebihan di kalangan masyarakat menunjukkan adanya ketimpangan antara tuntutan ekonomi dan jaminan sosial.
“Kesejahteraan bukan sekadar angka upah minimum, tapi rasa aman dan kepastian dalam bekerja. Ketika rakyat terus dihantui rasa takut kehilangan pekerjaan, maka produktivitas dan kualitas hidup pun ikut menurun,” tegasnya.
Thorik juga mendorong Pemerintah Kota Tangerang untuk memperkuat program pemberdayaan tenaga kerja dan pelatihan mental well-being bagi masyarakat agar tidak hanya siap bekerja, tapi juga siap menghadapi tekanan hidup modern.
“Masyarakat butuh pemerintah yang hadir, bukan hanya memerintah. Kekhawatiran sosial bisa berkurang bila sistem kerja dan perlindungan rakyat dibangun dengan serius,” pungkasnya.


