Oleh : Thorik Arfansyah Mahasiswa Hukum Universitas Pamulang
Opini – Peringatan May Day 2026 menuai sorotan tajam. Momentum yang seharusnya menjadi ruang refleksi atas sejarah panjang perjuangan buruh, justru dinilai mulai kehilangan makna substansialnya.
Sejumlah kalangan menilai bahwa arah peringatan Hari Buruh saat ini tidak lagi berangkat dari kesadaran historis, melainkan cenderung dipenuhi oleh kepentingan sesaat dan narasi yang tidak sepenuhnya merepresentasikan akar persoalan buruh itu sendiri.
Sejarah mencatat, May Day lahir dari perjuangan keras kaum pekerja dalam menuntut hak dasar, mulai dari jam kerja yang manusiawi hingga perlindungan terhadap eksploitasi.
Namun dalam praktik hari ini, semangat tersebut dinilai semakin kabur dan tidak lagi menjadi pijakan utama.
Isu yang diangkat dalam May Day 2026, seperti tuntutan penurunan potongan komisi ojek online, justru memunculkan tanda tanya.
Persoalan yang selama ini diperjuangkan secara mandiri oleh para pengemudi, kini tiba-tiba menjadi arus utama tanpa kejelasan arah perjuangan yang konsisten.
Di sisi lain, muncul anggapan bahwa sebagian isu yang diangkat dalam peringatan ini tidak sepenuhnya lahir dari kebutuhan riil buruh, melainkan berpotensi ditarik ke dalam kepentingan tertentu.
Hal ini memunculkan kekhawatiran bahwa gerakan buruh tidak lagi berdiri independen sebagaimana semangat awalnya.
Kondisi ini menunjukkan adanya pergeseran makna May Day, dari yang semula merupakan simbol perlawanan terhadap ketidakadilan, menjadi sekadar agenda seremonial yang kehilangan ruh perjuangan.
Jika situasi ini terus dibiarkan, maka bukan tidak mungkin generasi pekerja ke depan akan semakin jauh dari pemahaman terhadap sejarah perjuangan buruh itu sendiri.
May Day seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas dan kesadaran kolektif, bukan justru menjadi ruang yang membingungkan arah perjuangan.
















